Beautiful timelapse of Ratu Boko Temple at sunset. This temple is located in Yogyakarta, Indonesia. In the highlands close to the Prambanan Temple. Best spot to enjoy the sunset.
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Sebuah video dokumentasi perjalanan di Labuan Bajo, Flores, Indonesia. Melihat keindahan alam flores dan menjelajah luasnya samudera dengan Kapal Pinisi. Labuan Bajo masuk ke dalam salah satu Destinasi Super Prioritas. Destinasi Super Prioritas merupakan bagian dari program “10 Bali Baru” yang dicanangkan Pemerintah. Tak hanya dapat menjadi daya tarik wisatawan saja, namun juga menumbuhkan ekosistem ekonomi kreatif yang melibatkan warga setempat.
"Tha: Tukul Saka Niat" yang artinya "Semua itu berawal dari niat". Salah satu tagline dari Bank Jateng Borobudur Marathon 2017 yang masih terngiang hingga sekarang. Memang benar segala sesuatunya harus dimulai dari niat. Tanpanya mungkin saya tak bisa menyelesaikan race FM (Full Marathon) pertama saya.
Dimulai dari persiapan latihan dari tiga bulan yang lalu hingga pada akhirnya finish sesuai target yaitu sub 6 jam di bawah COT (Cut of Time). Selain fisik yang kuat harus mempersiapkan mental yang kuat juga. Karena musuh terbesar adalah dirimu sendiri. Bagaimana melawan rasa lelah, melawan rasa takut, dan mendorong tubuhmu untuk sampai pada kemampuan terbaikmu. Sempat optimis finish di sub 5 jam dengan menambah pace sekitar KM 12, namun hujan deras membuat sepatu basah mengakibatkan langkah menjadi berat. Tetapi saya bersyukur hujan turun, jika panas terik mungkin saja sudah kram dimana-mana. Adrenalin yang tinggi membuat tidak bisa tidur di malam sebelumnya. Yang saya takutkan jika sewaktu-waktu tubuh tumbang ditengah jalan mengingat hujan turun sangat deras. Sempat-sempatnya beli bakwan khas magelang di tengah jalan. Dibungkus plastik. Dinikmati sambil hujan-hujanan. HaHaHa
![]() |
| I'am Finisher |
Tahun ini manajemen race sangat bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya. Start dimulai tepat pukul 5 pagi dibuka oleh Pak Ganjar Pranowo dan Pak Imam Nahrawi. Membuktikan bahwa pejabat juga bisa tepat waktu. Medali dan desain kaos juga kece. Selain rute yang steril, pemandangan sepanjang jalur lari sangat keren, melintasi perkampungan warga hingga masuk daerah persawahan. Jangan ditanya ada tanjakan atau tidak. Sudah pasti jawabannya, iya. KM 30 ke atas merupakan tanjakan tiada akhir. Medis, water station, dan fruit station melimpah. Terdapat WS dari kawan-kawan komunitas Playon Jogja sekitar KM 39, cukup membantu di kilometer-kilometer akhir.
Antusias warga sangat tinggi, terbukti dari cheering zone dimana-mana. Hujan tak menyurutkan niatnya untuk menyemangati para pelari. Khususnya ketika melewati KM 15, anak-anak SMP menyanyikan lagu yang biasa dipakai untuk support Timnas.
"Ku yakin kau bisa, Ku yakin kau bisa menang, Kami selalu ada disini, Disini kami ada untukmu"
Seketika haru campur merinding. Hampir nangis. Untung hujan, jadi gak kelihatan kalau ada air mata yang sedikit netes. Seakan mendapat suntikan energi yang beribu-ribu kali lipat. Di kilometer ini saya berlari menambah pace dengan anak-anak Solo Runners (lupa tanya nama) namun berpisah di kilometer menjelang akhir.
![]() |
| Ini dia yang bikin terharu di KM 15 Sumber: Instagram @runhoodmag |
Warga Magelang memang ramah-ramah. Ada yang membagikan kantong kresek di depan rumahnya karena hujan mulai turun. Ada pula yang dengan sukarela membagaikan buah-buahan, kacang rebus, dan teh manis. Para petugas kepolisian dan marshal bertugas dengan baik, menyemangati para pelari dan menunjukkan arah yang benar.
Alhamdulillah. Akhirnya finish full marathon pertama saya dengan catatan waktu 06:34:56 tanpa cidera yang berarti. Berdasarkan pengalaman 4 kali mengikuti Borobudur Marathon, bisa dibilang race tahun ini adalah yang paling baik. Mulai dari pendaftaran, pengambilan racepack, hingga manajemen race yang terkoordinir dengan baik. Tak menyesal melepas keperjakaan FM di Bank Jateng Borobudur Marathon 2017.
I'm ready for Borobudur Marathon 2018!
Baca Juga: Hostel Murah Hanya 50 Ribu di Jogja

Pantai Ngandong memiliki air laut yang jernih sehingga cocok untuk berenang, meskipun harus tetap hati-hati karena terdapat karang. Saya menyarankan untuk berkunjung pada saat weekday karena relatif sepi. Selain berenang anda juga dapat menyewa papan selancar dengan harga 100 ribu/jam, atau menyewa perahu nelayan untuk berkeliling di Samudera Hindia. Tenang, tiap penumpang sudah difasilitasi dengan pelampung. Jadi jangan kawatir jika suatu waktu tercebur di “rumahnya” Nyi Roro Kidul. Wkwk.
Baca juga: Pantai Pok Tunggal; Camping asik di Jogja
Fasilitas di Pantai Ngandong cukup lengkap karena sudah terdapat tempat parkir, kamar mandi, warung makan, dan penginapan. Sempat saya bertanya tarif penginapannya, sekitar 400 ribu/malam. Harga yang mahal bagi para backpacker. Lebih baik dialokasikan untuk hal yang lainnya seperti makan. Harga makanan di sini terbilang cukup murah dengan berbagai jenis olahan. Mulai dari seafood hingga indomie pun ada.
Di pantai Ngandong terdapat bukit karang yang menjulang dengan view Pantai Sadranan dan Pantai Sundak. Saya rasa disini merupakan spot terbaik untuk melihat sunset.
Sisa waktu yang tersisa saya habiskan dengan foto sana-sini dan mengambil beberapa footage video menggunakan ponsel. Sementara teman-teman saya asik bermain air. Sayangnya, saya tidak dapat berlama-lama disini karena harus kembali pulang. Artinya, saya tidak dapat menikmati sunset di bukit karang tadi :(
Fasilitas di Pantai Ngandong cukup lengkap karena sudah terdapat tempat parkir, kamar mandi, warung makan, dan penginapan. Sempat saya bertanya tarif penginapannya, sekitar 400 ribu/malam. Harga yang mahal bagi para backpacker. Lebih baik dialokasikan untuk hal yang lainnya seperti makan. Harga makanan di sini terbilang cukup murah dengan berbagai jenis olahan. Mulai dari seafood hingga indomie pun ada.
Di pantai Ngandong terdapat bukit karang yang menjulang dengan view Pantai Sadranan dan Pantai Sundak. Saya rasa disini merupakan spot terbaik untuk melihat sunset.
Sisa waktu yang tersisa saya habiskan dengan foto sana-sini dan mengambil beberapa footage video menggunakan ponsel. Sementara teman-teman saya asik bermain air. Sayangnya, saya tidak dapat berlama-lama disini karena harus kembali pulang. Artinya, saya tidak dapat menikmati sunset di bukit karang tadi :(
![]() |
| Sunset Pantai Pok Tunggal |
Di pantai ini tidak terlalu ramai, hanya terdapat beberapa tenda saja karena bukan weekend. Untuk fasilitas di Pantai Pok Tunggal sudah cukup lengkap. Mulai dari tempat parkir, toilet, hingga rumah makan. Hanya saja sinyal telepon belum menjangkau pantai-pantai di daerah Gunungkidul. Waktu itu hanya terdapat sinyal Telkomsel saja (Juli 2016), tidak tahu kalau saat ini..
Malam semakin larut, kerlap-kerlip bintang semakin terang. Kami mulai memasak kopi untuk menghangatkan diri. Samar terlihat buih-buih ombak dengan suara gemuruhnya di bawah sinar rembulan. Sungguh perpaduan yang luar biasa antara kopi dan suara alam. Menambah nikmatnya malam syahdu. Kemudian kami terlelap hingga esok hari. Saya bangun pagi berniat untuk menikmati sunrise, namun keinginan itu sirna karena tertutup bukit.
Mainan Long Exposure di Xiaomi Mi4i
|
Cari yang Murah? Hostel Backpacker 44, Penginapan Murah Dekat Malioboro
Ketika hari mulai siang, seorang bapak-bapak menghampiri kami dan menyampaikan bahwa tempat yang ia gunakan untuk menyewakan payung telah kami dirikan tenda. Menjadi maklum karena kami tiba di pantai ini dalam kondisi gelap, lalu disarankan untuk pindah ke camping ground yang tersedia. Sekadar informasi, bahwa di sepanjang Pantai Pok Tunggal ketika siang hari akan didirikan payung-payung yang disewakan oleh warga. Karena malas untuk bongkar pasang tenda, akhirnya kami putuskan untuk pindah ke pantai lainnya secara random. Tujuan kami selanjutnya adalah Pantai Ngandong. Baca ceritanya disini.
![]() |
| Cool Traveler Stay Here |
Hostel Backpacker 44 ini menawarkan harga yang murah sekitar IDR 55K/malamnya. The cheapest in town lah dibanding hostel-hostel di tempat lain di Jogja. Malah lebih dari segi fasilitas. Cocok untuk tinggal berhari-hari atau sekedar singgah sesaat di kota yang terkenal dengan gudegnya ini. Lagipula saya hanya seorang diri, jadi bebas ingin tidur dimana saja.
Hostel ini berada satu pagar dengan sebuah homestay bernama "Simply Homy". Letaknya berada di belakang homestay tersebut. Meskipun berbeda, keduanya merupakan kepemilikan orang yang sama namun berbeda manajemen. Tepat di depannya merupakan warung-warung makanan kaki lima dan sebuah SD. Jadi tak perlu takut kelaparan.
Jika saya amati, tempat ini lebih banyak dikunjungi turis-turis dari mancanegara. Kalau dalam bahasa jawa disebutnya Londho-Londho. Tapi memang benar, hanya saya dan mas-mas yang jaga saja yang pribumi, sisanya berasal dari Perancis dan Malaysia. Jadi tak masalah jika ingin ngrasani, toh mereka juga ndak tau.
Baca Juga: Pantai Ngandong, Bening Cuy!
Tidak ada yang salah dalam sebutan "pribumi", jika pada konteks yang benar.
![]() |
| Nge-teh di bawah rindangnya pohon |

Pagelaran budaya Dieng Culture Festival 2017 telah usai. Selama tiga hari berturut-turut, ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara di manjakan dengan berbagai rangkaian acara yang apik. Mulai pameran produk UKM Dieng, Jazz Atas Awan, hingga festival kembang api dan lampion. Puncaknya, akan diadakan kirab budaya dan pemotongan rambut anak gembel (red: Masyarakat Dieng menyebutnya "Anak Gembel", bukan gimbal).
Pemotongan/ruwatan rambut anak gimbal tersebut sudah menjadi tradisi turun-temurun masyarakat Dieng, dan memiliki mitosnya sendiri. Menurut masyarakat Dieng, anak-anak berambut gimbal merupakan titipan dari Kyai Kolo Dete yang mendapat wahyu dari Ratu Pantai Selatan untuk mensejahterakan masyarakat Dieng. Tolak ukur kesejahteraan itu di tandai dengan anak-anak berambut gimbal.
Dengan menggunakan motor, saya dan kedua teman saya bertolak dari Semarang menuju Dieng pada Jum'at malam. Perjalanan ditempuh sekitar empat jam melewati Sumowono kemudian Temanggung. Sekitar pukul 11 malam kami tiba di Dieng, tepatnya di komplek Candi Arjuna. Suasana masih ramai karena bertepatan dengan selesainya Jazz Atas Awan. Penampilan Anji berhasil menghibur masyarakat Dieng dan sekitarnya ditandai dengan antusiasme pengunjung yang banyak.
Mendatangkan Anji sebagai bintang tamu Jazz Atas Awan nampaknya kurang serasi dengan konsep jazz yang di usung. Merupakan kali kedua pelantun lagu "Dia" ini menjadi pengisi acara diPop Jazz Atas Awan. Alangkah lebih baik bila panitia memberikan nuansa yang berbeda tiap tahunnya. Yaa walaupun itu hanya pendapat subjektif saya pribadi. Tapi setidaknya dapat menjadi masukan pihak penyelenggara.
Karena suhu di Dieng mencapai 10⁰ C, mampirlah kami di kedai kopi "Pamit Ngopi" demi segelas kehangatan. Terdapat sebuah perapian yang berada di tengah-tengah ruangan, membuat kedai ini unik tak seperti yang lainnya. Segelas teh Tambi dan Kopi Ratamba cukup untuk menghangatkan badan. Walaupun minuman yang kami pesan langsung menjadi dingin.
Malam itu kami bermalam di Basecamp Gunung Prau jalur Dieng Wetan. Karena selain dekat dengan lokasi acara Dieng Culture Festival, tidur di sini juga tidak dikenakan tarif alias gratis. Meskipun sudah menggunakan jaket tebal dan sleeping bag, hawa dingin tetap terasa karena pada pagi hari suhu udara mencapai 6°C. Fasilitas juga lengkap mulai tempat parkir, kamar mandi, hingga warung makan. Selain itu juga dapat menikmati Dieng dari ketinggian. Paginya, kami berjalan-jalan melintasi perkebunan warga untuk menikmati udara segar. Tak lupa mencoba buah-buahan khas ketinggian yaitu buah carica dan terong belanda.
Sekedar info bahwa tiket Dieng Culture Festival sudah habis dari jauh-jauh hari. Termasuk homestay-homestay yang berada di sekitar acara sudah full booked semua. Jika ingin menginap di homestay lebih baik bersama rombongan. Karena tarif per malamnya mencapai 500 ribu, dan minimal menginap yaitu dua malam. Kecuali kamu anaknya Amin Richman yang kuat menanggungnya sendiri. Apalah aku yang hanya rakyat sipil biasa :(
Jika masih bingung untuk menginap, cobalah bertanya dengan warga sekitar. Biasanya mereka akan senang hati mengijinkan bermalam di rumahnya. Tentu dengan harga yang sudah disepakati. Lebih murah tergantung kepintaran menawar. Jadi estimasi pengeluaran untuk 1 tiket DCF+2 malam homestay sekitar 1,3 juta. Karena untuk 1 tiket Dieng Culture Festival seharga 300 ribu. Atau dapat ikut jasa open trip biar tidak ribet.
![]() |
| Prosesi ruwatan rambut anak gimbal di Candi Arjuna |
Mendatangkan Anji sebagai bintang tamu Jazz Atas Awan nampaknya kurang serasi dengan konsep jazz yang di usung. Merupakan kali kedua pelantun lagu "Dia" ini menjadi pengisi acara di
![]() |
| Suhu mencapai 10⁰ C |
Malam itu kami bermalam di Basecamp Gunung Prau jalur Dieng Wetan. Karena selain dekat dengan lokasi acara Dieng Culture Festival, tidur di sini juga tidak dikenakan tarif alias gratis. Meskipun sudah menggunakan jaket tebal dan sleeping bag, hawa dingin tetap terasa karena pada pagi hari suhu udara mencapai 6°C. Fasilitas juga lengkap mulai tempat parkir, kamar mandi, hingga warung makan. Selain itu juga dapat menikmati Dieng dari ketinggian. Paginya, kami berjalan-jalan melintasi perkebunan warga untuk menikmati udara segar. Tak lupa mencoba buah-buahan khas ketinggian yaitu buah carica dan terong belanda.
![]() |
| Menikmati pagi hari di jalur pendakian G. Prau |
![]() |
| Warga membawa pulang hasil dari ladang |
![]() |
| Tuh, rumah aja dibakar :( |
Selain sebagai ajang memperkenalkan budaya lokal, Dieng Culture Festival ini juga dijadikan media promosi berbagai produk UKM Dieng. Mulai dari kerajinan tangan hingga makanan. Secara tidak langsung ikut memajukan perekonomian warga setempat. Makanan dan minuman khas Dataran Tinggi Dieng adalah mi ongklok dan purwoceng. Sempatkanlah mencicipinya, karena tidaklah berkunjung ke Dieng tanpa mencoba menu yang satu ini.
Setelah lelah berkeliling Dieng Culture Festival seharian, segera kami mendirikan tenda yang kami bawa dari rumah. Karena terdapat camping ground dekat dengan panggung utama. Tempat dimana akan diterbangkannya ribuan lampion dan kembang api malam nanti. Semakin sore semakin banyak pula yang mulai mendirikan tenda. Salah satunya rombongan dari UMY Jogja, yang pada akhirnya menemani kami menikmati festival lampion malam itu.
Lihat juga: Festival Lampion Dieng Culture Festival (Video)
Lihat juga: Festival Lampion Dieng Culture Festival (Video)
Akhirnya malam yang dinanti datang juga. Pengunjung mulai berdesak-desakan memadati Komplek Candi Arjuna. Mengabaikan dinginnya Dieng, mengubah menjadi hangatnya kebersamaan. Meskipun tanpa tiket dan dibatasi pagar pembatas, saya pastikan atmosfer yang dirasakan akan sama. Terimakasih kawan-kawan UMY Jogja yang sudi berbagi kebersamaan sehingga malam kami tidak suwung-suwung amat. Hahaha.
Puncak acara dari Dieng Culture Festival ini adalah pemotongan/ruwatan anak-anak berambut gimbal. Sang anak akan meminta beberapa permintaan yang harus dipenuhi sebelum rambutnya dipotong. Ada yang meminta iPad, boneka, hingga dua ekor sapi. Terkadang permintaan anak-anak itu cukup menggelikan. Seperti Hikma Hidayah (5) yang meminta rambut gimbalnya dipotong oleh Om Ujang tukang cukur yang dikenalnya, Afifah Ambani (9) meminta serutan pensil dan paha ayam kentucky, dan Nur Aminatun (6.5 tahun) minta diberi jajanan warung tetangga meski dirumahnya memiliki warung juga.
Berarti benar kata pepatah...
Baca Juga: Hostel Murah, Hanya 50 Ribu di Jogja
![]() |
| Bersama kawan-kawan UMY Jogja |
![]() |
| Pintu masuk DCF 2017 yang dihias menggunakan bambu |
Berarti benar kata pepatah...
"Rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput sendiri"Kenapa rumput tetangga selalu lebih hijau? Masih menjadi misteri.
Baca Juga: Hostel Murah, Hanya 50 Ribu di Jogja
About Me

Dharma Kasih Mulyana
Explorer
Popular Posts
-
Sebuah video dokumentasi perjalanan di Labuan Bajo, Flores, Indonesia. Melihat keindahan alam flores dan menjelajah luasnya samudera denga...
-
" Tha: Tukul Saka Niat " yang artinya "Semua itu berawal dari niat". Salah satu tagline dari Bank Jateng Borobudu...
-
Sunset Pantai Pok Tunggal Dengan berbekal Google Map akhirnya sampai juga di Pantai Pok Tunggal saat sore hari. Karena hari mulai ge...

















